tak terpaut lama…………….
semenjak dirimu bermain di setiap lekuk tubuhku dalam alunan kecipak air nan bening, semenjak dirimu berkelana dalam setiap tubuh perawanku, halangi sinar mentari dengan setiap kanopi rumah satwaku., Semenjak dirimu menahan gelora getar nafasku dalam setiap gerak, bermain bersama buih memecah diantara kakimu. Semenjak dirimu merangkak dalam setiap celah gunungku, berbaur dengan desah dan cucuran keringat ditimpa butiran kerikil lepas
Tidak terlalu lama memang…….
Tentu masih terbayang dalam imajimu
Keelokan tubuhku, dalam sajian ngarai berukir aliran air, keperakan dalam lebatnya hutan perawan. Bahkan matahari, tak kuasa mengusir halimun disela sela pucuk gunungku, sembunyikan puncak menikam penasaran dalam hasrat manusiamu.
Tentu masih terbayang dalam imajimu, rasa nyaman dan segar saat kubelai seluruh tubuhmu, usir penat dan gerah, tawarkan semilir kesegaran mengantarkan ke negeri di awan
Tentu masih terbayang dalam imajimu
Sebab belum terpaut lama…..
Memang belum terpaut lama…..
Kau nodai setiap lekuk tubuhku, torehkan kebanggaan egomu bahwa kau pernah menikmatiku
Kau taburkan dalam setiap kulitku, jejak jejak kehidupanmu yang tak lagi dapat kumengerti.
Satwaku kehilangan kanopi, tempat mereka berumah dan menjagaku tetap menawan, kau rambah memuaskan hasrat kecintaanmu
Tubuhku kehilangan kemolekan dari setiap jengkal yang kau gali, sekarat dalam setiap air yang kau kucurkan
Kau koyak selimutku, dengan setiap hembusan cerobongmu, tegak angkuh tak terperi dalam setiap gerak geligimu.
Ah……
Haruskah kau nodai aku, saat kau mengaku mencintaiku
Haruskan kau lukai aku, saat kau menikmati tubuhku
Haruskah kau hancurkan diriku memuaskan hasrat egomu……
Lihatlah……..
Anginku tak lagi semilir memelaimu, tapi meruyak kejam dalam beliung berputaran kejam
Lihatlah…..
Desah nafasku tak lagi sejuk menyegarkan, namun mengendap, gerah dalam dekapan panas meradang
Lihatlah….
Airku tak lagi gerecik keperakan, tapi membadai dalam hentakan, menggulung diantara Lumpur dan puing
Lihatlah gunungku tak lagi mendekapmu dalam kenikmatan, namun menabur abu, menimbun mengubur setiap kehidupanmu
Lihatlah….., dengarlah…… rasalah……
Setaip derit tanahku bergeser
Setiap kerlip api melentik diantara puing rumahmu
Setiap tangis bayimu…. Dalam dekapan lapar….. gerah menyesak…..dalam setiap kesadaranmu
Belum terpaut lama memang……….dan dirimu tetap tak mengerti………..
untuk simon
yang merasa dirinya cantik
adamu menyadarkan bahwa bumiku menuju ajal
tetap untuk simon
yang merasa dirinya pethok walau sebenarnya oon
VLCamp, medio mei 2008