BELUM TERPAUT LAMA

By clejoerint

tak terpaut lama…………….

semenjak dirimu bermain di setiap lekuk tubuhku dalam alunan kecipak air nan bening, semenjak dirimu berkelana dalam setiap tubuh perawanku, halangi sinar mentari dengan setiap kanopi rumah satwaku., Semenjak dirimu menahan gelora getar nafasku dalam setiap gerak, bermain bersama buih memecah diantara kakimu. Semenjak dirimu merangkak dalam setiap celah gunungku, berbaur dengan desah dan cucuran keringat ditimpa butiran kerikil lepas

Tidak terlalu lama memang…….

Tentu masih terbayang dalam imajimu

Keelokan tubuhku, dalam sajian ngarai berukir aliran air, keperakan dalam lebatnya hutan perawan. Bahkan matahari, tak kuasa mengusir halimun disela sela pucuk gunungku, sembunyikan puncak menikam penasaran dalam hasrat manusiamu.

Tentu masih terbayang dalam imajimu, rasa nyaman dan segar saat kubelai seluruh tubuhmu, usir penat dan gerah, tawarkan semilir kesegaran mengantarkan ke negeri di awan

Tentu masih terbayang dalam imajimu

Sebab belum terpaut lama…..

Memang belum terpaut lama…..

Kau nodai setiap lekuk tubuhku, torehkan kebanggaan egomu bahwa kau pernah menikmatiku

Kau taburkan dalam setiap kulitku, jejak jejak kehidupanmu yang tak lagi dapat kumengerti.

Satwaku kehilangan kanopi, tempat mereka berumah dan menjagaku tetap menawan, kau rambah memuaskan hasrat kecintaanmu

Tubuhku kehilangan kemolekan dari setiap jengkal yang kau gali, sekarat dalam setiap air yang kau kucurkan

Kau koyak selimutku, dengan setiap hembusan cerobongmu, tegak angkuh tak terperi dalam setiap gerak geligimu.

Ah……

Haruskah kau nodai aku, saat kau mengaku mencintaiku

Haruskan kau lukai aku, saat kau menikmati tubuhku

Haruskah kau hancurkan diriku memuaskan hasrat egomu……

Lihatlah……..

Anginku tak lagi semilir memelaimu, tapi meruyak kejam dalam beliung berputaran kejam

Lihatlah…..

Desah nafasku tak lagi sejuk menyegarkan, namun mengendap, gerah dalam dekapan panas meradang

Lihatlah….

Airku tak lagi gerecik keperakan, tapi membadai dalam hentakan, menggulung diantara Lumpur dan puing

Lihatlah gunungku tak lagi mendekapmu dalam kenikmatan, namun menabur abu, menimbun mengubur setiap kehidupanmu

Lihatlah….., dengarlah…… rasalah……

Setaip derit tanahku bergeser

Setiap kerlip api melentik diantara puing rumahmu

Setiap tangis bayimu…. Dalam dekapan lapar….. gerah menyesak…..dalam setiap kesadaranmu

Belum terpaut lama memang……….dan dirimu tetap tak mengerti………..

untuk simon

yang merasa dirinya cantik

adamu menyadarkan bahwa bumiku menuju ajal

tetap untuk simon

yang merasa dirinya pethok walau sebenarnya oon

VLCamp, medio mei 2008

Tag: ,

Tinggalkan Balasan