Arsip untuk ‘alam sekitar kita’ Kategori

Maria (juga pernah) Mengandung

Maret 28, 2009

Mengandung, hamil adalah takdir dan kelebihan, pun juga kelemahan wanita. tapi disitulah sebetulnya wanita ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi dari mahkluk yang manapun.

Maka manusia yang memperlakukan wanita dengan tidak layak karena kehamilannya, sebenarnya mengingkari harkat dan martabat seorang ibu. mengingkari bahwa dirinya pernah dilahirkan oleh seorang ibu, dan hukumnya adalah durhaka, jika karena kehamilan, kemudian wanita diperlakukan secara tidak layak dibandingkan dengan wanita lain. semestinya kehamilan memberikan perlakuan yang lebih.

Nah, karena itu, peradaban bermula dari ibu.  Hanya dua orang yang tidak pernah dilahirkan oleh seorang ibu, bapa Adam dan Ibu hawa, tapi selebihnya berada didunia ini karena seorang wanita, maka sungguh manusia yang mengingkari ibu adalah manusia yang tidak beradab, maka dengan demikian tidak bermoral.  Des… manusia yang mempermasalahkan kehamilan dan kemudian menggunakannya sebagai alasan untuk mengambil keputusan adalah manusia yang tidak bermoral.

Bahkan maria Ibu, Yesus pun mengandung diluar nikah, tapi toh dunia tidak menempatkannya pada posisi yang buruk. Bukan karena kehamilanlah seseorang diadili, melainkan sebab yang mengakibatkanlah yang menempatkan posisi seorang wanita pada penilaian kita, itupun sangat bersifat empiris – cultural.  Sebab kehamilan adalah tugas perutusan ilahi yang harus emban oleh wanita.

maka seandainya kita merasa pernah dilahirkan, marilah kita meletakkan wanita yang mengandung pada posisi yang lebih baik. Terima kasih pada Iwan fals atas lagunya……

Ibu……..

berteduh

Maret 4, 2009

berteduh, satu kegiatan yang sering kita lakukan, khususnya [ada masa masa sekarang ini, saat cuaca yang kurang berahabat. kadang panas terasa menyengat, sementara mendadak turun hujan lebat. Tak sampai sepeminumn teh kemudian, air berhenti turun dari langit. berteduh, satu kegiatan sederhana, yang kita lakukan tanpa perlu banyak pertimbangan.

Berteduh, entah karena cuaca atau kepenatan hidup, tekanan dan kebutuhan. tempat menghindar dari himpatan – apapun itu – yang mendera tiada henti. maka berteduh adalah menghindar dari segala ancaman, melarikan diri dari tekanan yang diyakini berbahaya bagi keselamatan diri.  maka berteduh tak lain – dalam kadar yang ringan – adalah menyerahkan diri pada hal lain, orang – tempat – dan suasana lain.

Berteduh adalah mempercayakan dengan demikian menyerahkan diri – untuk sementara atau sementahun – kepada kekuasaan yang lain.

shelter

 i need some others else to whom i can talk to, i need some other else who understand me, i need some other else in which i find shelter, i need some other else to swept mt tears off…..

i need some other else due the old one is ignoring me,  i need some other else due the old one  cant understand me,  i need some other else due the old one doesnt pay attention on me…..

 

but… who is that other???

dscn0227

memandang, melihat, mengamati dan memperhatikan

Mei 8, 2008

ah…. sungguh kita bisa belajar banyak dari anak anak.

saat ini, waktu waktu pasca UN, banyak anak anak yang menunggu untuk mengikuti ujian praktik. Beberapa diantaranya bergerombol, sementara yang lain menyendiri. Ada saja tingkah laku mereka pada saat penantian itu.

saya melihat beberapa siswa duduk duduk memandang kesibukan temannya, yang lain sedang melihat para siswa yang sedang bergurau, sementara di dalam ruangan para siswa terlihat sedang memperhatikan instruksi yang diberikan pengujinya. Di ruangan yang lain, ujian praktik sedng berlangsung dan para siswa sedang mengamati preparat yang dihadapinya.

memandang, melihat, mengamati dan memperhatikan  , sebuah kegiatan untuk menjalin kontak dengan lingkungannya, intensi kita ada di dalamnya. saya jarang menyadari hal ini hingga kali ini, saya sempat memperhatikannya.  Sungguh beruntung kita, jika menyadari anyak kesempatan untuk memperhatikan……..

rasa

April 4, 2008

hari ini, mataku terbuka lebih lebar lagi. saat ku mendangar dua kalimat yang sungguh berbeda. sederhana tapi sungguh dalam maknanya.

Temanku: ” Wah…… sepagi ini kok sudah terasa gerah…ya, jangan jangan gunung Merapi gegenen” Temanku juga : Weh! gerah gimana, orang saya kedinginan sampai harus paka sweater gini”

Nah….. siapa yang benar….? keduanya?

Jadi, tubuh merasakan apa yang ingin dirasakan, indera kita penghubung sekaligus penghalang, yang tampak adalah yang ingin kita lihat, yang kita dengar adalah suara yang ingin kita dengar, yang kita rasa adalah sensasi yang ingin kita dapatkan…

Seperti Guru pernah mengatakan : “Kamu melihat, tapi tidak mengetahui dan mendengar namun tidak mengerti “

Jadi apa guna indera bagi kita, jika tidak membawa kita pada kebenaran……??? eh…iya…ya, apa guna garam jika tidak lagi terasa asin…..

Daun Jatuh diatas beranda

April 4, 2008

hari ini, saat subuh belum beranjak, dan matahari masih agak malu menampakkan diri.

Sehabis mandi pagi, seperempat menjelang jam enam aku duduk di beranda sembari menghisap racun organik (begitu aku menyebut tembakau), menunggu anak anak siap untuk kesekolah.

tak bersuara, sebuah daun pohon rambutan melayang jatuh, tak kan menarik perhatianku, andai saja aku tidak beranjak untuk menyapu halaman. Hemmmm… aneh…. daun masih hijau …….jatuh, gugur, pada waktu pagi lagi….

penasaran, kulihat sekeliling….. ada cukup banyak daun yang senasib, belum menguning tapi berguguran. aneh… dan tak kupahami hingga kini aku tuliskan…… ah… begitu banyak yang tidak dimengerti, bahkan disekitar rumah tinggal kita…..ahh…. hari ini, aku tersadar bahwa aku mengerti bahwa aku tidak mengerti…..

tahu

April 2, 2008

malam ini….. aku mendengar lagi suara gemerincing pakdhe sharjoe. Paktua yang sudah kehilangan pengelihatan sejak kecil itu mendekat dari ujung gang. cring cring cring…….

“wah…. kadingaren pakdhe…. datangnya agak larut….” sapaku, “hari ini sepi sekali nggih …pakdhe….!” sambungku.

dengan tongkat ditangan, pakdhe sharjoe, berjalan pelan, tapi mantap, seakan kekurangannya tidak menghalangi langkahnya…

‘lha enggih…. kendel radi dangu wonten ngandap …. kok kadhose wonten tiyang sami ngadeg wonten sangandhap uwit kluwih nginggil rika, nopo leres pak guru…….”

dengan heran aku tengok, dan kulihat di kegelapan bayang pohonkluwih itu…. kerlip nyala rokok berkedip…..

Ah…. pakdhe sharjoe yang buta mengerti…. sementara aku yang merasa tidak berkekurangan justru tidak mengetahuinya…… Jadi siapa yang buta…….