Meninggalkan komentar

betiga jingga……

lihatlah di langit timur, dikerendahan pucuk pohon kelapa, membulat sempurna, membesar menutupi pandangan. sinarnya terbiaskan membentuk jingga, dalam bayangan penumbra bumi, berpadu dalam gelap kian menguat hingga cemerlang di ujungnya….

betiga jingga……

 

 

lihatlah d!, dirimu mengintip di awal senja
di keremangan senja berhias cahaya tipis
mendorong mentari yang tak hendak lagi menyiinari
menangkap cahaya tersisa separuh jingga
terang merebak berhambur cahaya
menanjak kian memutih membulat sempurna
mengikat pandangku tak mampu kualihkan
sepanjang jalan kutempuh malam itu.

rasakanlah d! dirimu memuncak dalam gulak
dalam kemilau putih rasa tak kuasa
bertabur cahaya membekukan dunia
luluh dalam cantik kuasa cahayamu

lihatlah d!
rasalah d!

 

 

bulan belat besar jingga, mengikatku sepanjang waktu membeku, tak bergerak hingga kemudian mengalir bersama sinarmu…..

Meninggalkan komentar

tetap ku pandang bulan itu…….

malam ini menjadi sangat istimewa, saat matahari masih bercahaya tadi, sang bulan sudah muncul dan membayang di ufuk timur. pucat memutih merindukan cahaya. dan malam kenudian, bulan bersinar sejak awal, hamper sempuna dilangit yang jernih….

 

 

tetap ku pandang bulan itu…….

 

 

pucat memutih tak bercahaya
membayang diekor matahari tenggelam
dilingkup suram senja segera datang
dan semburat jingga penanada senja

dan tetap kupandang bulan itu
hampir sempurna membulat di suram langit
diatas pucuk pucuk pepohonan
tersembul diatas atap bangunan beku

saat malam meninggi kemudian
cemerlang sempurna mengalahkan bintang
bersinggasana berdampar lautan biru
menguasaiku dalam temaram rindu

kurangkai kata kupadukan rasa untukmu
kuungkapkan dalam gejolak tak mampu kutahan
kuendapkan dalam pandangan tak kualihkan
dan tetap kupandang bulan itu karenamu

 

 

 

tetap kupandang bulan itu, karena ku tak mampu mengalihkan dan terikat tertawan pada sinar cantikmu di sepanjang senja berujung malam….

Meninggalkan komentar

bulan sabit di jalan sawah…..

dijalan yang kau lalui itu, diantara luasan sawah dan ladang tak beratap, diantara sepi angin malam dan padang ilalang basah. kuingin dapat menemani dan lalui bersamamu, memandang sabit yang muncul di ufuk barat………

 

 

bulan sabit di jalan sawah…..

 

 

lihatlah d!, kutapaki jalan yang kau tempuh
dengan rasa yang menggelayut penuh
dan mata tak mampu terpejam
menerawang menemukan jejak yang kau tinggalkan.
diantara rumput ilalang basah
diantara jalan berbatu tak rata
di jalan sawah itu diwaktu senja berbulan muda

lihatlah d!, kuhitung langkah kaki meraihmu
kuhitung tapaknya dalam tiap jengkal tanah kau lalui
membawaku di ujung jalan sawah ini
dan kudapati bulan sabit berpendar bersama bintang
di ufuk langit barat mengawali senja malam ini

lihatlah d! dirimu bertahta di langit senja
menahanku memandang tak kulepaskan
dan kukaitkan hati padamu bulan senja.

 

 

kukaitkan ku padamu, di awal senja ini, saat dirimu bersinar mengalahkan bintang yang kau sanding, dilangit senja itu……..

Meninggalkan komentar

satu senja di bawah mahoni kotamu…..

lampu malam tak mampu menembus kerudungmu, lebat dalam naungan mahokta daunmu. tak kuhiraukan cahaya yang saling berkejaran di jalan itu dan riuh terburu mereka yang ingin membatalkan matiraganya……

 

 

satu senja di bawah mahoni kotamu…..

 

 
langit kian kelam menggantung
dipadu cahaya tak rela merebahkan diri
tampak dalam siluet awan di langit senja
berpendar merah di ketinggian rendah

cahayanya menari menyentuh dedaunan
pokok mahoni menutup sepenggal jalan dalam gelap
seleret emas bermain dengan celah ranting pohon
menembus mengikatku dalam keremangan magis

sejenak waktu membeku tak mengalir
mengambang dibangku batu kusam kelabu
di balik kerimbunan mahoni tua di jalan itu
berhias seleret sinar emas kian tenggelam

kutemukan dirimu tersenyum padaku
dalam genggaman tangan tak ingin kulepaskan
sama seperti senja itu berlalu dikotamu
selepas senja terpaku di kerimbunan mahoni kotamu

 

 

 

entah berapa waktu telah kulipat dan kulalui, saat kutapaki lagi, mahoni tua itu bersama senja yang segera berlalu……

Meninggalkan komentar

satu pagi sunyi dikotamu……

malam kumulai hampir diujungnya, mengalir pendek didiakhiriya. kumandang lantunan suaramu membangunkanku, menggaung diantara tembok kota dan jalanan sepi. sesaat kemudian, cahaya memerah di langit timur……

 

 

satu pagi sunyi dikotamu……

 

 

andai kau tahu kekasihku…..
pagi ini kulalui dikotamu, bersandar sendiri
di tembok taman itu, seperti dulu saat bertemu
menantang matahari pagi yang hangat merayuku

andai kau disampingku kekasihku
melewatkan hangatnya pagi diantara hening dedaunan
dan bayangan tak berbentuk diantara jalan berbatu
hanya berdua seperti waktu itu

andai dapat kuhadirkan dirimu kekasihku
meluapkan waktu bertemu di pagi itu
memuaskan hati memandangmu tak henti
seperti saat kau masih ada waktu untukku

satu pagi di kotamu kekasihku
dijalan berbatu di taman itu kuingin hadirmu menemaniku
berdiam bermandi cahaya pagi disamping tembok tebing itu
dan angin berhembus memainkan rambutmu

 

 

 

satu pagi di kotamu kekasihku, kuingin hadirmu bersamaku, melawan sendiri di di kesunyian pagi ini….

Meninggalkan komentar

pohon beralas batu putih……….

dua pokok pohon kersen segar dengan daun menghijau, beralas bebatuan putih menghampar diantara akarnya yang tak kelihatan, sangkar beton yang emlingkupinya, tak mampu memudarkan hijau daun segarnya……..

 

 

pohon beralas batu putih……….

 

 

dari celah pintu hatiku,
kulihat hamparan batu putih selepas teras
dalam kepingan halus yang berserak memenuhi
seluas mataku ingin memandangnya

berbatas dinding dinding putih memucat
dan lembaran kaca lebar berlapis kain coklat
dua pokok pohon tegak angkuh sendirian
daun hijau segar memenuhi ranting cabangnya

kutapakkan kaki sepanjang lantai dingin menggigit
ku tengadah mencari matahari tak kutemukan
bahkan bulanpun tak bersua dengan bintang terangnya
selain langit kelabu beton membeku

hijaumu sekedar memenuhi rasa hatiku
segarmu sekedar memenuhi rasa inginku
tak tumbuh dalam tunas kecil tak kutemukan
tak berbuah dalam bungan tak terkembang

 

 

tak kau perlukan sinar mentari membuatmu hijau, tak kau butuhkan gemericik air menyegarkan, tak kau kenal ayunan angin membentuk bebayang. pohon hijau beralaskan batu putih..

Meninggalkan komentar

diantara lampu kota…..

sepanjang malam ini kuhabiskan diantara cahaya lampu yang tertutup dedaunan, sinarnya menerobos celah dedaunan yang merimbun diantara pokoknya, membentuk bayang bayang yang selalu bergerak di hempas lalang kendaraan…..

 

 

 

diantara lampu kota…..

 

 

 

dan malam mulai merayap naik
membawa sepi di sepanjang trotoar itu
sorot lampu kota bermain dengan dedaunan
bagai lampu diskotik yang menghentak hentak

tak kuhiraukan derum kendaraan semakin kencang
kesiurnya menggila menggoyang cahaya
melibas trotoar sepi dengan cahaya berdendang
dan malam menjadi kian sepi dengan cahaya semakin beku

kakiku tetap bersilang di kursi taman itu
menangkap dedaunan hiam yang tak ingin kuhentikan
seperti anak kucing bermin dengan ujung ekornya
melompat menerkam bayangan yang tak berwujud

dan malam menjadi semakin sepi
angin tak lagi mendendangkan daun berbayang
cahaya pucat lampu kota menebarkan kebekuan
saat kemudian suara tuhan berkumandang

 

 

 

kututup pengembaraanku malam itu, kutinggalkan cahaya beku dan dedaunan tak lagi menari, dan semakin kosong hatiku sepanjang malam itu……

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.