Keraguan yang membunuh…….

November 3, 2016

tetapkan langkah  dan pusatkan pikiranmu, katakan YA dan pergilah keseluruh muka bumi, sejauh apapun perjalanan dilakukuan, selalu bergantung pada langkah pertama. pengembaraan tak kan terjadi tanpa langkah ini …..

 

 

 

Keraguan yang membunuh…….

 

 

pisau mu bernama keraguan

kebimbangan beradu kecemasan dan ketakutan

kau tajamkan dengan kata kata lirih

melesak jauh menyayat hati

menumpas kekuatan dan keyakinanku

membunuhku dengan kegundahan

dan kerinduan yang kubangun keping demi keping

 

keraguan yang membunuhku

tepat saat langkah kuayun di ambang senja

menjadi malam tempat sembunyiku

terduduk diantara puing balok  kehidupanku

yang kutegakkan satu demi satu

berlandas nafas memburu menyiksaku

keraguan yang menyiksa membunuhku

 

 

 

 

 

saat kau kata ragu dan bimbang kau gentakan lonceng kematianku……..


pamit sawetara

November 3, 2016

mligi ndak aturake, atur panuwunku kanggu almarhum eyang Gesang, kanti kekidungan ka anggit, wus asung pambiyantu marang aku ing cecawis rasa pangrasa atiku. amerga cumepak lan cuntheling wektuku. Lilanono pamit mulih, ……………

 

 

pamit sawetara

 

 

wus sawetara suwe anggonku ngenteni

ngadhanng adhang ing clongokan dalan gedhe

saloring pretelon wetan ndeso

kang binates ing tetuwuhan pari

ing sajembaring bulak jembar kui

 

wus sawetara suwe anggonku nglelimbang

nyenyingkirake sawernaning pakulitan

kang dadhi reridhuning panyawang

anggonku mangerteni kasunyatan

kang tuwuh lan semi ing waktu pungkasan iki

 

wus sawetara suwe anggonku jumeneng ardi

dadi gapura guwa garbaning bumi

kanti siji ing pucuking paningal

tuwuhing lintang kemukus tansah ndak enteni

gandhaning rumm wangi kang pinesthi

ing pucuking tawang langit wetan

 

 

 

 

 

pamit sawetara, kanggo ngleremake urip katon ora tentrem….


kukira ujung garisku sudah dekat….

November 3, 2016

masing masing orang, punya garis garis yang digambarkan ditelapak tangannya, saling simpang dan bertemu, mengurat panjang menggambarkan waktu, ujungnya samar menghilang di sepanjang tepian……

 

 

 

kukira ujung garisku sudah dekat….

 

 

sudah kuhitung dan kusambung

tiap ruas yang tergambar penanda lahirku

diguratkan bertindih ditelapakku

kutelusuri dan kuhela satu demi satu

tiap ujung yang kutemukan kutautkan

menggambar waktu sepanjang diberikan untukku

 

di telapakku tergurat beratus ujung

kutempuh dari menit ke menit

menghitung jam yang berdetak satu satu

menanda hari yang kulalui bersamamu

kugantungkan diujung garis yang kutemukan di sepenggal waktumu

 

ditelapakku tergurat beratus ujung

yang kusambung menggerakkan garis waktuku

bertumpang bersilang tak mengarah

satu saat kuberhenti dan melihat  satu jeda

saat kukira ujung garisku sudah dekat.

saat itu kukira waktuku sudah teramat dekat

 

 

 

 

 

kukira waktu ku sudah teramat dekat…..


beralihlah dari sisimu

Oktober 19, 2016

cobalah bayangkan saat kau disisiku, apalah yang akan kau perbuat, kau harap dapat kau lakukan. beralihlah agar dapa kau rasakan bergeserlah agar dapat kau mengerti, saat kau disisiku kau kan tahu rasa dan harapanku…..

 

 

 

beralihlah dari sisimu

 

 

 

gelap kah malam yang kulalui ini

hitam kah langit yang kujaga dan kutunggu

kedap kah ruang hati yang kuhidupi membenamkanku

seluas mata dapat memandang mencelikakmu

sejauh kaki dapat melangkah membawamu

beralihlah dari sisimu

meluruskan hasrat dan gairah hidupku

hingga kau kemudian mengerti memahami

laras yang kuarahkan membawa hidupku

 

beralihlah dari sisimu

dan menapak terjal jejak langkahku

tangkaplah kemilau matahari kumiliki

dan cantik bintang menghias perjalananku

waktu itu kau kan mengerti

saat kau luruskan dengan garis yang ku gambar

beralihlah dari sisimu…

 

 

 

 

matahari dan bulan gemintang tak kan sama……


kukira ujung garisku sudah dekat….

Oktober 19, 2016

masing masing orang, punya garis garis yang digambarkan ditelapak tangannya, saling simpang dan bertemu, mengurat panjang menggambarkan waktu, ujungnya samar menghilang di sepanjang tepian……

 

 

 

kukira ujung garisku sudah dekat….

 

 

sudah kuhitung dan kusambung

tiap ruas yang tergambar penanda lahirku

diguratkan bertindih ditelapakku

kutelusuri dan kuhela satu demi satu

tiap ujung yang kutemukan kutautkan

menggambar waktu sepanjang diberikan untukku

 

di telapakku tergurat beratus ujung

kutempuh dari menit ke menit

menghitung jam yang berdetak satu satu

menanda hari yang kulalui bersamamu

kugantungkan diujung garis yang kutemukan di sepenggal waktumu

 

ditelapakku tergurat beratus ujung

yang kusambung menggerakkan garis waktuku

bertumpang bersilang tak mengarah

satu saat kuberhenti dan melihat  satu jeda

saat kukira ujung garisku sudah dekat.

saat itu kukira waktuku sudah teramat dekat

 

 

 

 

 

kukira waktu ku sudah teramat dekat…..

 


bulan biru tak berbatas….

Oktober 6, 2016

malam  ini cahaya merasuk jauh, awan terusir menyingkir, bintang bungkan tak menyanyikan lagu cahayanya, padam. cahaya berenang dilautan langit biru diantara berkas berkas kapas awan putih yang terserak di sekitarmu….

 

 

bulan biru tak berbatas….

 

 

malam ini kulihat mu berbaju cahaya biru

terang di lautan teduh langit malam

berbinar bercahaya berseri bestari

dengan sapuan putih menyapu di sekelilingmu

dengan hening melingkup menguasai

dengan sepi meluncur dari langitmu

dalam tirai gerimis kecil lembut meluruh

dan selalu seutas senyum tipismu beradu

dengan rindu yang menumbuh di bawah cahaya bulan biru

 

malam ini kulihat senyummu menyebar

meraih tepi tepi awan dipinggiran langit

merambah batas batas ujung pandangan

segar merekah bercahaya memutih

berhias awan kapas memutih berserak membiru

bagai kuncup melati putih memusat

mekar dihamparan daun menghijau

 

 

 

malam semakin larut gerimis tipis membayangi cahayamu semakin kuat….


kantuk tak lagi dalam kamusku

Oktober 6, 2016

aku kehilangan kata untuk menggambarkanmu, lidahku kelu karna tak mampu menerjemahkan pikiran dan kekalutanku. seperti apakah aku menyebut dan mengatakannya, saat kemudian mata tak lagi mampu terpejam……

 

 

kantuk tak lagi dalam kamusku

 

 

bulan yang  tak datang selarut itu

tak selalu membuat malam menjadi gelap

lampu kamar yang ku bunuh dengan berulang kali

hanya menutupi gambarmu yang kugantung

di dinding muka tempat tidurku

rebah yang kupaksakan tak beralas

hanya mengantarkan dingin merasuk memeluk kulitku

 

maka kulalui dengan mata tak terpejam

meninggalkan malam tetap terjaga

dan kunanti pagi dalam benderang yang sangat

kucari bulan di langit bercahaya hitam

agar gelap terasa dan hilang cahaya

pun tetap saja mata tak terpejam

dan rebah tak lagi berguna merehatkan

hingga kemudian kuhapuskan dalam pemahamanku