(8) tenggelam di cakrawala

Langit bergulung gulung dengan awan yang memutih kelabu, berbuntal buntak bagai kapas terlepas ke udara. Sinar mentari menerobos, mencari celah terbuka membentuk siluet gelombang menyesakkan…..

 

 

(8) tenggelam di cakrawala

 

 

Sore ini langit bergulung gulung

Berlapis dalam bongkahan batu kelabu

Matahari senja menyirat disela terbuka

Melukis semburat jingga diatas bantalan kelabu

Mengusung lesu menggurat rona kelabu

Dan membeku

 

Senja ini matahari begitu lemah

Tenggelam diantara gelombang awan kelabu

Menghadirkan gelap meluruh dan merayu

Sebentar menyusup melingkupi

Pandangku yag tak mampu menembusmu

 

Malam ini gelap begitu kuatnya

Meraja menyelubungi satu cahaya

Yang tak lagi berpendar terbenam dicakrawala

Dimanakah dapat kutemu cahaya satu untukmu

Sekedar petunjuk saat tenggelam dilubuk cakrawala

 

 

 

 

 

Udara yang disediakan, tak lagi baik untukku, dikotori oleh buntalan gelap kelam dan malam yang tak sabar menjemputku…….

 

(7). Perempuan banjar dengan poni di dahinya….

Diujung banjar itu, di teduh pohon ketapang di tepi pemandian bertajuk pohon besar, perempuan berdiri memandang satu wajah ditepian hati dan samudra perasaanku, ingin kusapa dan kuminta kembali hatiku……..

 

 

 

(7). Perempuan banjar dengan poni di dahinya….

 

 

 

Tak dapat kuhapuskan dari bentang ingatanku

Satu wajah tirus dan mata memandang lurus

Diganggu riapan helai helai rambut

Yang tersibak dari poni didahinya

Menatap jauh di balik punggung dan hatiku

 

Ingin kuminta hati dan cahaya ku

Yang berpaling dan direbutnya

Di sepanjang belantara jauh tak terjangkau

Dan goyah teramat bimbang arah

Memunggungi dan memancar beda arah

 

Adakah kau tangkap karena tak kau mengerti

Dan dusta mengabut menyelimuti

Saat diujung hati terlanjur mengerti

Dan arah tak hendak lagi berganti

Dan aku berjuang untuk mengerti

 

 

 

 

 

Andai memang kau tertarik, tak beda jauh dengan diriku, adakah hati seirama hingga terpagut cahaya yang sama, antara kau dan diriku……..

 

 

(6). Malam yang dipotong pendek

siapa bilang malam hari sepanjang siang hari, disana malam memuai sedemikian panjang, hingga hari ditelannya. Gelap yang dibawanya jadi kian lama dan luas. Malam malam itu, harus kupotong, agar hatiku muat melaluinya……

 

 

(6). Malam yang dipotong pendek

 

 

Adalah malam yang kupangkas

Dalam potongan potongan pendek

Berujung jaga yang mendadak

Bermula lelap yang tak kunjung datang

Di jselanya dengan gelisah yang tak tentram

 

Potongan itu kurangkai pada langit yang tak nampak

Berbingkai bingkai sebentar kosong sesak

Dengan outline tegas  tak bisa kubantah

Dan bayangan memudar kian tipis

Mengisi lelap yang lelah kudapatkan

 

Malam yang dipotong pendek itu

Adalah malamku teramat panjang

Meliuk tak dapat kulalui dalam satu langkah lelap

Dan tak dapat kulepaskan dalam jaga tak lagi kuat

Malam itu kupotong pendek pendek

Agar kau tak mengisinya lagi untukkku

 

 

 

 

Malam yang dipotong pendek itu berderet deret, diawali dengan gelisah dan lelap tak kunjung datang, dan terjaga diujungnya…

(5). Menjaring doa

doa itu melambung mengangkasa, hanyut dalam arus kata yang mengalir, kutangkap satu dan kudaraskan kemudian untukku.

 

 

 

(5). Menjaring doa

 

 

kutebarkan jaring diantara pucuk pohon

dan terik bayang bayangmu

memasang kisi menghalangiku

melambungkan doa yang kudarskan

 

“mengapa kau tebar jaring menghela doa,

tak cukupkah kata yang kudaraskan

dan timpuh yang kusujudkan

dan tengadah yang kupanjatkan kepadamu”

 

saat siang kemudian menjadi tua

sore rebah mengintip bermandikan cahaya

niat kuteriakkan dalam hentakan doa

kata kata yang kudaraskan menerobos

jalinan jaring yang kupasang pagi tadi

 

 

 

 

 

 

 

Kisi kisi ditebarkan, menjaring menghalang doa yang kudaraskan, menaik mengangkasa bersama cahaya yang menerobos diantara bingkai daun cemara….

 

(4).  Angin semilir di mojosongo….

siang masih perkasa menebarkan pesonanya, memanggang pelataran tanah hingga terbelah, daun angsana berbaris dalam antrian, gugur melayang satu demi satu, melukis cahaya dengan bayangannya

 

 

(4).  Angin semilir di mojosongo….

 

 

yang ada hanyalah putih pucat pualam

mengalasi dingin yang menyengat perlahan

saat kusajikan hidupku

diantara lilin lilin yang kau nyalakan

dan hening senandung doa

 

dingin membuat ku kebas

dan semilir mengiringi lilin menari

menggeliat di atas pualam putih pucat

menggeletar menjulur sepanjang buluh

bekukanku sepanjang kulit tipis

 

 

hidupku tiada lagi

meluruh di hanyut angin semilir

menari bersama bayang bayang tak kelihatan

dan kemudian diam, dalam doa tak terucap

 

 

 

 

dua pilar kukuh berdiri di depan sunyi dalam keluasan dan kedalaman hening menai meneriakkan sunyi.

 

 

(3). Lentera Hitam

gadis kedua belas menggantung lentera ditongkat tumpuannya, berjalan dengan langkah pelan pelan. Pandangannya memenuhi berkas cahaya memijar lemah, memantul diatas kilau batu hitam sepanjang tapak jalannya.

 

 

 

(3). Lentera Hitam

 

 

cahaya yang menyorot

meluruh  berkelip yang bergoyang lemah

adalah guratan hitam

yang memberkas dari pelupuk matamu

 

mengapa mataku tak lagi menjadi sumber cahaya?

tak sanggup lagi membawa terang di hidupku

dan jendela tertutup dengan eratnya

menyembunyikan wajahmu

 

wahai gadis ke dua belas

biarlah kupinjam lentera menunggumu

karna hanya tersisa berkas hitam

meluruh dari lenteramu…

 

 

 

 

 

 

(2) Immortal – tak termatikan

Immortal munkin saja tak termatikan, atau tak terbunuhkan, maut tak bakalan menjemputnya dan takkan pernah masuk dalam ketiadaan. Immortal mengingkari keberadaan dan keniscayaan…. Ataukan keabadian….

 

 

(2) Immortal – tak termatikan

 

 

Lihatlah

bagiku malam tak kan lagi menjadi gelap

dan tak berujung lagi pada pagi yang terburu

menyeruak mengalahkan bulan penuh

yang tak kan lagi dibenamkan di keremangan pagi

 

dengarlah

kesiur angin tak kan membisu lagi

membawa setiap hela nafas kutarik

mendendangkan melodi kerinduanku padamu

kudaraskan dalam nafas pujian doa

lagu yang ku gaungkan tak terbungkamkan

 

rasakanlah

setiap detak nafas yang kuabdikan padamu

dan setiap rasa yang kulepaskan

bagai pelangi yang kulukiskan

untukmu tak termatikan selamanya

 

 

 

 

akhirnya kemudian mengalir terus, menyembul dari simpul simpul urat air, yang menghidupi bumi dan kehidupanku…