satu malam di penghujung tahun….

andai harus kuhitung, berapa malam yang telau kulalui, tentuah sebanyak siang yang sudah kulepaskan, andai harus kucacah berpa bulan yang kuihat, tentulah tidak sebanyak matahari yang senantiasa menyapaku……

 

 

satu malam di penghujung tahun….

 

 

satu malam diujung tahun

adalah malam yang meresahkanku

saat kusadari bahwa bulan tak lagi muncul untukku

saat kusadari bahwa janji tak mungkin dapat kutepati

dan hutang tak dapat lunas terbayarkan

 

malam malamku tak lagi cukup untuk menanti

waktu yang dijanjikan tak lagi mampu melunaskan

tetap kuingat hutang yang pernah kutunaikan

walau tak dapat lagi ku mengerti

 

tetaplah tertulis seperti itu

hutangku adalah waktu untuk terus hidup

menjaga dan menemani

hingga satu malam nanti saat kau kata

malam tak lagi harus kunanti dan kutemani

 

 

 

 

hutangku adalah waktu untuk terus hidup, hingga saat nanti kau kata….

 

waktu adalah perdebatan….

telah lama memang, waktu yang disediakan untukku, telah lama memang, waktu yang tercerabut dariku, telah lama memang, waktu yang kau sembunyikan untukku, dan saat kemudian bersatu di persimpangan……

 

 

waktu adalah perdebatan….

 

 

selalu kau sibukkan tentang waktu

yang tak berjeda dan berujung

menghiasi tiap langkah dan mataharimu

bahkan tiap bulan yang kau tunggu di malam itu

 

waktu adalah perdebatan yang mengalir

menumpahkan kata demi kata mengalir

berkelok dalam lembahnya sendiri

tumpah di keluasan samudramu sendiri

 

waktu adalah perdebatan sepanjang sungai

mengukir tanah tempat berpijak sendiri

menyembur dari sumber sumber tak kupahami

menghidupkan hutan hutan belukar hidupmu

 

waktu yang kupinta adalah gemuruh badai emosi

perdebatan tak berujung di bumi yang berbeda

arah yang kau tuju telah berubah

walau tak ingin kata itu diperdebatkan.

 

 

 

waktu adalah perdebatan yang selalu berujung ketidak pahaman….

 

 

tahun hanyalah angka……

awal tahun selalu berkaitan dengan resolusi, janji yang kau penuhi di waktu yang kemudian datang, dan berlalu. Apakah yang akan kau perbuat di waktu ini, saat tahun berganti dalam hari hari yang berfulir sama…….

 

 

 

tahun hanyalah angka……

 

 

berapa tahun yang kau lalui

hanyalah angka yang dibuat untuk menandai

waktu yang selalu bergulir dan tak mengulang lagi

disepanjang waktu yang dijanjikan untukmu

 

 

tahun barumu adalah saat matahari pertama kaurasakan

berlalu dan selalu berlalu

sama dan selalu sama seperti itu dalam hitungan

tapi hari selalu menjadi baru

bahkan apapun yang kemudian kau lakukan

 

tahun barumu adalah saat bulan pertama kau amati

terasa indah dan asing di tiap malam

yang juga selalu dan selalu ka lalui

dan kemudian menjadi cantik dan indah kau rasa

bahkan dalam bentuk apapun yang terlihat

 

tahun hanyalah penanda

hingga saat kemudian berlalu jatah waktuku

 

 

 

adakah tahun membedakan satu dengan lainnya…..

melampiaskan….

kau tentu ingat kata kata yang pernah kau ungkapkan, tak hendak menjadi saungai saat lautan di depan mata, tak akan terjadi rotan saat akar tak ada lagi. tak kan kucari terang saat gelap menjadi……

 

 

melampiaskan….

 

 

marahkah itu hingga harus dilampiaskan

haruskah cermin kupecahkan saat kudapati wajahku bermuram

atau kucaci tuhan kala matahari tak kudapati

 

tak tahukah kau waku telah banyak berlalu

dan beribu matahari datang bergulir pergi

dan berlapis mendung telah menyelimuti

 

tak kan kunyalakan lilin walau gelap membayang

dan kubiarkan mendung berlayutan seperti adanya

atau terik membakar tak berujung

 

bagiku pelangi tetaplah pelangi

dan gelap mendung tak membuatku teringatmu

walau saat itu harus sendiri dan menyendiri

hijau adalah hijau tak akan kujadikan biru

terjal hanyalah jalan yang harus dilalui

 

 

 

pelangi adalah pelangi dan tetap menjadi pelangi, bahkan saat badai menderu….

 

perbincangan di ujung tahun…

adakah harus penhujung tahun menjadi sesuatu untuk dikenangkan, apakah harus penghujung tahun menjadi sesuatu yang teristimewa, apakah harus dipenghujung tahun kau lakukan itu…..

 

 

perbincangan di ujung tahun…

 

 

terus haruskah selalu ku ikuti yang kauingini?

waktu waktu telah berlalu dan tidak satupun untukku

tidak pernah lagi ku pinta dan meminta

waktu yang berlalu akan memberitahu

tanya jawab yang beruntun akan mengarahkan

 

terus apa yang kau dapat sepanjang tahun yang lalu

apa yang kau lakukan di tahun yang baru?

 

biarlah waktu berlalu seperti biasa

biarlah hari bergulir hingga menjadi hari seperti ini

dan kau tetap empunya

tak berubah dan tetap akan seperti itu.

 

biarlah waktu tetap berlalu dan terus berlalu

waktu akan memberitahumu

tentangmu dan kata katamu

 

 

 

 

dan kemudian memang berlalu…..

lelaki perindu brokoli…

gunung itulah sumber hidupnya, gunung itu lah penghapus dayanya. hidupnya di tanamnya dan tubuhnya diserhkanny di hamparan hijau lereng gunung. disitulah hidup dipertaruhkan untuk segalanya….

 

 

 

 

lelaki perindu brokoli…

 

 

 

dududk diteras itu

dibayangi sembab mata memandang melambung

lelaki dengan gunung di depan rumah

dan pucuk ladang dicakrawala

 

hatinya terikat tunas tunas kecil

dan daun hijau merekah di sekitarnya

pucuk pucuk hijau menyembul melegakan

ikal bergulung gelung menggumpal

 

didekapnya dipeluk dada

dipandangnya menembus ikal dikepalanya

terurai air menggenang dipelupuk

tertunduk dalam dekapan lelaki perindu

 

dipeluknya ikal si buah hati

disentuhnya gelung gelung kecil di kepalanya

dan air mata mengguyur membanjir di hatinya

matanya tetap memandang melambung mengangkasa

menyeret langkahnya mendaki  setapak terjal

dan rebah di hamparn brokoli merranggas

Perempuan dengan brokoli di kepalanya…

seluas limpahan air gunung itu, sejauh mata dapat mengikuti alurnya, sepanjang itulah berderet meliuk liuk, bagai pembuluh yang mengotori kulit mulusmu. sepanjang setapak ladang sayur itu, langkahmu mengawal hidupmu…..

 

 

 

Perempuan dengan brokoli di kepalanya…

 

 

 

jalan setapak itu masih terendam embun

batu hitam basah mengkilap di antaranya

embun menari menggantung di ujung rumput gajah

pucuk teh bercabang tiga ranum hijau muda

diujungnya seikat brokoli mengayun naik turun

bagai mahkota perempuan jenjang tiga puluhan

muncul dibalik perdu kayu puring

 

 

dijunjung di pucuk kepala

ikal menutup rambut tak pernah digerainya

selalu diletakkan disitu berikat ikat

diayun naik turun sebelum tujuan

bebannya adalah tumpuan daya hidupnya

beikat ikat adalah nafas jalan hidupnya

 

 

perempuan jenjang dengan brokoli diatasnya

berayun ayun menyonqsong melangkah

dengan tiap tapaknya dijalanan terjal basah