Meninggalkan komentar

kulukis malam……

tetap kuhitung setiap malam berlalu, dalam gelap berarak menyambut pagi, bertabur gemintang mengawal kemukus panjer sore. tetap kuhitung bulan menemani malam, melengkung sbait hingga penuh kemudian…..

 
kulukis malam……

 
kutunggu malam mengubur matahari
menumbuhkan cahaya bulan di langit sepi
dan langit pekat menjadi gulita
lintang kemukus menemani bulan
memberi cahaya kian menjadi tak berarti
singkat di ujung sore melepas keremangan senja
dan kembali, malam menjadi gulita dengan cahaya

saat kemudian senja merambat pergi
langit merendah kutarik kubentangkan
kulukis dengan warna kesukaanku
berbagai bulan diantara siluete wajahmu
dan seribu wajahmu berlatar cahaya bulan
dan malam tak lagi berasa harap
kulukis dirimu dengan warna kesukaanku

 

 

kubentuk malam dengan rasa kesukaanku, karena harapku tak berujung dan penantianku tak berakhir……

Meninggalkan komentar

kepada siapa……?

kini manusia hanyalah sederetan angka, berbaris rapi, tertera di wajahnya seperti deretan angka yang memenuhi rak pajangan di swalayan. setip pagi kupilih satu, dan kukirim ucapan selamat pagiku entah pada siapa…..

 

 

kepada siapa……?

 

 

tetap saja kukirimkan sapa selamat pagiku
bersama mentari mengawali pagi
sebelum denting lagu penanda waktu
kepada entah siapa tak penting lagi
setelah atau sebelum dirimu
tetap saja menjadi tak berarti

tetap saja kukirimkan semangat pagiku
kepada mu atau entah siapa setelahmu
kuurutkan berbeda satu demi satu
dan tetap tak berbalas jua
dan tetap dengan satu dua tanya
tentang empunya sapa berkirim siapa

 

 

tetap kukirimkan mengawali hari dan memulai pagi, dengan satu harap berarti bagimu entah siapa, yang kupilih diantara nomor nomor sekitarmu, selamat pagi d!…….

rumm : rinonce undering manah manembah

Meninggalkan komentar

menjadi pupa…….

entah metamorfosa ataukan hibernasi, segala aktifitas berhenti dan membeku tak lagi bergerak. hanya nafas yang mengalun lambat dan mengantarkan tubuh beku dalam tidur panjang. diam…. tak bergerak…..

menjadi pupa…….

 

 

menjadi pupa adalah berdiam diri
mengikat lenganku sedemikian erat
menjerat kakiku diam tak bergerak
membungkus tubuhku dengan kebekuan
membungkam duniaku dalam kesunyian
mengingkari diriku seakan tiada lagi
hingga yang tersisa adalah diam dan hanya diam

menjadi pupa adalah membungkam hati
untuk selalu berada dan berarti bagai sesuatu
untuk selalu bermimpi tentang cahaya bulan
untuk selalu membangun harap dan menepi
dari setiap gulak rasa yang tak pernah reda
untuk selalu mananti satu penggal waktu dapat bertemu

 
menjadi pupa adalah mematikan diri
dan membawa hidup dalam sunyi sendiri…..
rumm : rinonce undering manah manembah

Meninggalkan komentar

entering the box……

perjalananku sampai di ujung pengharapan, penantian yang kubangun tak berbuah, persimpangan yang ku temui tak membawaku pada jalan kepadamu. kemanapun arah kutempuh kudapati ruang tertutup tak berjendela……

 

 
entering the box……

 

 

jalanku berujung pintu tak berjendela
jejak yang kau tinggalkan tertutup debu memenuhi
tertera samar sepanjang jalan yang hanya satu itu
tanpa kelokan tanpa persimpangan
bagai muka air mengalun, monoton tak berima
berhias pohon meranggas berjajar
meruncing bak buluh melukai bumi
sekarat dalam pengap debu jalan tersibak

kemanapun langkah terayun lambat
ujungnya menyusup dalam kotak tak berjendela
menjebakku dalam kurungan tak bertepi
tinggal dalam kesunyian yang menyelimutiku

kemanapun langkah terayun lambat
membawaku masuk kedalam kotak mengendap
melingkupiku, menutupku dari dunia…….

 

 
duniaku mengantarkan diriku ke dalam Pandora, yang tak dapat kubuka kembali…..

rumm : rinonce undering manah manembah.

Meninggalkan komentar

Menebus waktu…….

setiap langkah semakin tenggelam dalam lautan waktu, butiran waktu menggunung, menghalangi pandangan tak mampu menembus, dan setiap gerak adalah hutang yang harus kutebus dengan penggal penggal waktu ……..

 
Menebus waktu…….

 
kukatakan pada pohon tua di gumuk itu
tentang hutangku kepadamu, ribuan langkah yang telah kuambil darimu
jutaan hela nafas yang tiap kali kupinjam dari padamu
tiap hentakan waktu yang berlalu dari detik yang tak terhenti
adalah waktumu yang ku pakai sepanjang hidu membeku itu
tiap desiran darah mengalir dalam suluhku adalah dayamu yang kuminta
yang kau topang dalam sandaran kau berikan

kukatakan pada punden kuno di bawah beringin putih itu
tentang udara yang ku hirup setiap kali ku tergagap
air yang ku teguk setiap kali ku haus meranggas
cahaya yang ku suluhkan tiap kali ku kehabisan matahari
atau gelap terlalu menguasaku seperti malam malam itu
dan hangat ku butuhkan tiap kali badanku menggigil sekarat
tentang hutang waktuku sepanjang hidup kusandarkan kepadamu
tentang hutang cahayaku yang tiap kali kupakai menerangi hatiku

 

 

 

kukatakan kepadamu, tentang hutang hidupku yang harus kutebus dengan penggal penggal waktuku, kini semakin nyata, hidup bukan lagi milikku. kukumpulkan waktu untuk menebusnya…….
rumm : rinonce undering manah manembah……

Meninggalkan komentar

kaubekukan aku…….

entah kau akui atau tidak, entah kau mengerti atau tidak, entah kau inginkan atau tidak, tapi ku menunggu sepanjang malam yang telah berlalu, diantara waktu waktu hadirmu, angin mengantarka malam membekukan………

 

 

kaubekukan aku…….
kuhitung tiap malam berlalu diujungnya
berganti pagi dengan matahari sunyinya
tanda dirimu tak hadir membenamkan diri
dan membiarkan malam berlalu dalam gulita
kutandai tiap tanggal kehadiranmu
jauh dilangit barat di kedalaman malam
memancar sekejap tak hendak berlama lama
bagai tak rindu tak ingin jumpa

selalu hadirmu membawa beku
mengedar dalam cahaya menyengat
putih tajam mengkilat menancap
bagai membelah langit berwarna kelabu
dengan kilat petir tak bersuara
membunuh dalam kesunyian…

 

 
tenang, tak berkedip, mengalir tak bersuara merambah setiap sumber kehidupan dan sesaat kemudian………

Meninggalkan komentar

duduk di batu kali sungai dusunmu……

matahari merendah, bersembunyi dibalik untaian daun bambu yang bergesekan di barat kali dusunmu. bening air gemericik bermain di bebatuan, membawa udara basah berangin di sepanjang bantarannya. kududuk di batu sungai itu……

 

 

duduk di batu kali sungai dusunmu……

 

 

lihatlah di tepi barat dusunmu
dedaunan bambu bergesek memainkan lagu
sambil menyanyi tembang kinanthi
air memainkan harmoni batunya
membelai ilalang patah terendam
mengayun berulang bagai tak puas
melihatmu dalam sunyi sore hari

lihatlah di kali barat dusunmu
angin berkesiur menyentuh ujung dedaunan
mengganggu matahari menyampaikan sinar baratnya
mengajak bayang bayang berlari diatas batu kalialunannya melembut dalam harmoni panjang
bersiul bagai biola dengan dawai merdunya

lihatlah di kali barat dusunmu
bebatuan lepas bergerombol di tubuhnya
menemaniku mengharap menanti hadirmu
malam nanti seperti biasa yang kutunggu

 

 
keteduhan dan keheningannya mengantarkanku melampaui batas batas yang bahkan tak dapat kuduga. disini ku termenung di atas batu kali dekat dusunmu…..

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.