time bend….

siapakah yang dapat memberi waktu, yang selalu berdetik tak kembali, siapakah yang dapat memangkas jarak melengkung hingga dapa kuraih, siapakah yang dapat melipat cahaya hingga dapat ku menemukanmu……

 

 

 

time bend….

 

 

lipatlah waktu yang mengukur jauh

dan dapat kutemukan simpul simpul singkat

saat dapat kulalui bersama walau singkat

sekedar berbagi melepas jeda

diantara waktu yang tidak lagi bersahabat

 

pangkaslah jarak yang senantiasa memuai panjang

dan dapat kuraih dalam jangkauan

dalam perjalanan singkat selalu kuharap

sekedar berbagai menyamakan langkah

diantara langkah yang semakin tak selaras

 

bengkokkanlah cahaya yang senanitiasa terburai

melengkung menjadi pelangi bagiku

dalam warna warna mu yang senantiasa kulagukan

sekedar berbagi cahaya teduh kutunggu

diantara panas terik siang harimu

 

 

 

 

dapatkah cahaya melipat jarak dan waktumu dan kutemukan dirimu…..

malam tanpa bulan….

semestinyalah malam  ini dirimu tak muncul, langkahmu mengekor matahari, hari hari ini menjadi penantian banyak orang, dan senja menyembunyikannya di balik cakrawala. malam  ini, gelap tak berbulan, bahkan semenjak senja bergulir….

 

 

 

malam tanpa bulan….

 

 

bodohnya aku berharap bulan muncul kali ini

menemaniku melalui malam yang lambat bergulir pagi

senja menyembunyikanmu dibalik langit gelap

dan mengekor di balik matahari

 

bodohnya aku berharap bulan muncul kali ini

yang ku tahu takkan muncul di langit senja tadi

dan disetiap waktu kemudian kulalui

tetaplah gelap tanpa bulan menemani

 

bodohnya aku berharap dirimu menemaniku malam  ini

membuta diantara gaduh ribuan ahli mencari

di lapisan tipis cahaya langit barat

disemburat jingga cahaya sisa matahari

 

bodohnya aku berharap dirimu menemani

membisikkan namamu beribu kali

melalui malam  dan gelap langit pagi

hingga panggilanmu bergema pagi ini

 

 

 

 

sepanjang mala mini, saat ku harap bulan menemani, kudraskan namamu ribuan kali…..

 

bisikan tengah malam

malam sudah berjalan larut, dunia menyepi diantara bulan dan matahari yang belum terbit. udara sudah menjadi dingin pun angin membawa air kemana dia pergi. dalam kesunyian yang sangat, kudengar suaramu…..

 

 

bisikan tengah malam

 

 

lelap tidurku membawa ke alam sunyi

kesadaran tak lagi kumiliki

dan diriku hanyut ke dunia yang tak kumengerti

mengalir dalam lukisan warna hitam dan putih

dalam lengkungan lembayung warna kelabu

 

kejap mataku terbelalak melempar

seluruh diriku dalam keterpukauan mutlak

sesaat kudengar dirimu berbisik

melantukan sunyi menyanyikan kerinduan

satu janji yang belum dapat lunas kutepati

 

dan lagumu memenuhi tengah malam itu

bergemuruh lantang mengangkasa langit

menjagaku meneruskan lelap menanti pagi

mengikatku dengan seluruh kenanangan dirimu

dan janjiku untuk selalu menyertaimu

 

 

 

 

maka mala mini, kulewatkan dengan tadarus yang kudaraskan dengan namamu…

dolanan geni

mulo bener kang dingandikaake para sarjana, para pinter kae, yen pingin nyekel tikus, yo among tindakan kui sing kabutuhake, ora perlu nganggo ngobah saomahe barang. ewo semono kang kawogan donyo iki lagi seneng dolanan geni……..

 

dolanan geni

 

 

 

pancen wengi iki katon ndhedet

tumrap sliramu kang lagi wae lumaku

sadawaning panyandang kang kasampirake

ing pundhak lan awakmu lan tanggung jawabmu

pancen dino iki katon peteng ing netramu

kang mbukak donya anyar dadi pandeganing sakbrayat

ing ngarso cucuk lampahing panguripan

 

upet blarak kang wus kasumet

ora dadhi pepadhang langkah lumaku

blencong lengo potro kang kapasang ndadak mobat mabit murup gemedhe

ndhadheake titir katabuh kanti rasa kuwatir

geneyo sliramu katon seneng dolanan geni

dian kasumet dudu kanggo upeting urip

kanggo nduduhake yen sliramu

nggegem kenceng nyekel panguwasaning aurip

 

 

 

 

 

geneyo sliramu seneng dolanan geni, munggah aku ora paham opo kang dadi karepe

unlogic…..

James Uys mestilah merasakan seperti apa yang dirasakan oleh Xi, sang tokoh ciptaannya. Mestilah Uys bertanya tanya tentang masksudnya dan diungkapkan dalam sekuel “the god must be crasy”, film lama di era tahun 80 an……

 

 

unlogic

 

 

apa yang dapat kulakukan dan kukatakan tentangmu

saat menerimamu meraja dalam duniaku

tak habis kupikir

tak habis pula kurenungkan

bahkan di sepanjang malam yang kulalui

 

otakku tak mampu memahami

pengetahuanku tak dapat mengatasi

ilmu yang kupelajari tak dapat mengalasi

jalan yang ku tempuh berujung kalut

langit yang ku sangga kian meragukanku

 

Tuhan pastilah bercanda dengan menciptaku

pastilah tak serius dengan perasaanku

saat kemudian tak bisa kuahami

saat kemudian tak lagi bisa kupikirkan

sesaat kemudian kurasakan

segalanya tak lagi logis untuk kupikirkan….

 

 

 

 

 

memang akhirnya harus ku akui…… tidak logis…….

udan sawengi natas…

sawancine suryo lumingsir ing tawang kulon, langit wus katon peteng kebak ing mego kang ngandut banyu. Bayu tumiyup banter, koyo koyo ngumpulke banyu ing telenging langit. abyur mudhun dadi udan kang ora kendhat sawengi natas….

 

 

udan sawengi natas…

 

 

apa kang bisa ndak aturake marang sliramu

ing surup iki sak wutuhing langit

katon klawu datan ono lintang sumurup

wulan kudhune mijil dadi pepadhanging ratri

sesandhingan lintang kemukus

dadi pepacaking tawang ratri iki

 

apa kang bisa ndak aturake marang sliramu

wengi ginebyur ing tetesing banyu

samubarang katon teles tanpo greget

kahanan katon nyenyet sepi tanpa upet

ngekep rasa kang nggrantes pindya tanpa winates

 

apa kang bisa ndak aturake marang sliramu

sadhowoning wengi kebak udan iki

wewayangan kang tansah ndak arep arep

tansah cumanthil kekiteran ngreridhu

ngebaki ati kang nandhang aboting roso

 

 

 

 

sawengi natas, ora liyo among tansah sinandhing wewayang ngreridhu ati……

bahkan sinyal pun tiada

hujan yang turun semenjak hari masih terang, terus menitik hingga pagi datang kemudian. rintiknya membekukan malam dalam tebaran cahaya lampu berkabut. tampias di beranda barat menyadarkan lamunanku tetapi bahkan sinyalpun tiada…..

 

 

 

bahkan sinyal pun tiada

 

 

kucari bayangan mu diantara rintik hujan

dan kutanyakan pada kabut air yang mengambang

diantara gemeritik air hujan di tadahan atap

mengapa hidup menjad sedemikian dingin

dan horizon dikuasai sepi menyendiri.

 

kucari wajahmu diantara lampu yang memburam

berselimut kabut memangkas cahaya

mengaburkan batas batas bentuk kian tak jelas

mengapa waktuku terhempas di tubir malam

dalam ambang jeda ketiadaan

 

diujung malam berhias kabut hujan

dikesendirian malam berbatas kerinduan

kudaraskan pujian meredakan kuulang

berharap hadirmu menemani malam

dan tetap kusendiri di malam berhias hujan

 

 

 

 

kucari dan kutanyakan sepanjang malam ini dimanakah dirimu, hanya hujan yang menjawab……