(21). bukalah mata dan hatimu….

bukalah mata, dan lihatlah cermat, waktu yang kupotong dan kukirimkan kepadamu adakah menjadi milikmu ataukah aku? Dunia yang ku hentikan dan kubekukan, untukmu ataukah untuk keinginanku, bukalah mata dan lihat lah cermat…..

 

 

 

(21). bukalah mata dan hatimu….

 

 

Bukalah mata dan lihatlah cermat

Lapangkan hati dan pikirkan kemudian

Saat pagi kau temukan dengan kata kata

Atau malam ku jemput dengan salam sapa

Adakah karna pagi begitu indahnya

Dan kubagi dengan seribu kata

Ataukah ketakutanku begitu sangat

Dan kurangkai salam menemanimu

 

Bukalah mata dan lihatlah cermat

Untukmukah kata kata di ribuan pagi

Ataukah untuk kecemasanku tak berakhir

Untukkmukah untaian salam menari

Melilit cahaya bulan di ujung malam

Ataukah untuk kerinduanku tak berujung

 

Bukalah mata dan lihatlah cermat

Untukmu dan keinginanmu

Ataukah keakuaku yang tak ingin sendiri

 

 

 

 

 

Untukmu atau akukah, salam yang kulayangkan diantara ribuan matahari, yang kulayangkan menyambut ratusan bulan menemani…..

(20). Pagi itu selalu datang…..

Pagi itu selalu datang, tiap kali malam telah sampai ke ujung dan cahaya memerah di langit rendah. Pagi itu selalu datang, tiap kali malam terjaga dan terpotong potong menjadi kepingan pendek pendek. Pagi itu selalu datang…..

 

 

 

(20). Pagi itu selalu datang…..

 

 

Pagi itu selalu datang

Melintasi malam dengan kepastian

Diujung kegelapan cahaya memudar

Entah dalam dekapan lelap

Entah dalam hamburan kepingan gelap

Entah dalam dekapan udara tersedak

Pagi itu selalu datang dan kusambut dengan senyuman

 

Pagi itu selalu datang tak sendirian

Ada sapa yang kurentangkan

Dengan ujung melambai menyambutmu

Mengantarkan cahaya pagi dan kejut dingin dini

Membuka kelopakmu dan menjaganya

Hingga cahaya surya menerobos

Diantara lengkung alis kelammu

 

pagi itu selalu tak sendirian

ribuan matahari menampakkan diri

dan jutaan kata melayang hadir untukmu

 

 

 

 

pagi itu tak sendirian, ada jutaan kata melayang manghadirkan sapa, dirimu tak pernah sendirian…..

(19). Kenalkan : namamu wida…..

Suara itu tiba tiba muncul dan menyelinap, bersumber dari sosok tinggi yang tampak diam, hening dengan perasaannya. Aku tergagap saat kemudian kusadari,  bibir tipisnya tak bercelah tak bergerak namun suaranya tek berhenti……

 

 

(19). Kenalkan : namamu wida…..

 

 

Tinggi bertungkai panjang

Jaket kulit coklatnya membungkus

tubuhnya yang jauh lebih cemerlang

semampai dengan balutan senyum

tak bisa kulupa dan kuhindari

kilau cahaya di celah matanya

mengikatku erat bergeming

 

kenalkan namamu wida

tajam, kata kata itu berulang

menikam bilikku mengikat kesadaranku

gemetar kata itu berkeriap di kepalaku

semakin keras kian membuat sesak

berteriak menjejak menusuk ketakutanku

saat kulihat kau tetap disana

tegak berdiri dan bibir tak bergerak

dan kilaunya memelukku

 

kenalkan: namamu wida

dan terus terdengar

tak berhenti

 

 

 

 

 

Kenalkan namamu wida, bukan yang lain, ….

(18). Mengharap kau kembali….

Jarak yang kutempuh sudahlah teramat jauh dengan beribu langkah yang kususun. Mataku telah penuh dengan peristiwa dan waktu terpangkas seakan tak berarti. Detak yang kujalani menjadi degup tak teratur, dan kuingin kau kembali……

 

 

(18). Mengharap kau kembali….

 

 

Waktu bergulir begitu lama

Tak terhitung detak telah kulakukan

Di tiap langkahku bersamamu

Kudengarkan dalam tiap nafas kuhembus

Menggerakkan daya sepanjang rinduku

Yang setia menemaniku

Bahkan jika ku tak hirau kepadamu

 

Detakku kini melemah

Dengan letih yang tak kurasa

Kau pacu dengan keras berlebih

Kau derapkan dengan bising dan dentam

Berhentak dengan tenaga sia sia

tanpa daya menahanmu tak pergi kemana

dan tetap disitu mengurungku

 

dan kuingin kau kembali

berdetak dengan seribu harmoni

berdegup dalam rindu untukku

 

 

 

 

sudah terlalu lemah degup yang kau hasilkan, sudah terlalu lelah detak yang kau lakukan dan tak mampu menahanmu kembali untukku…….

 

(17). bumi sigar bencah……..

mongso ketiga wus sawetara wektu pungkas, ngancik ing mongso kapat, kang kebak ing udan,  banyu kang tiba saka langit gemrujug pinda kasiratake marang bethara. Bumi katherak sigar bencah dadi guntur anglurug…..

 

 

(17). bumi sigar bencah……..

 

 

Panasing srengenge nerak pucuking redi

Bumi kemratak garing amblarak kemlingking

Suryo kang sumlorot datan kalingan

Lemah kang rapet dadi udar

Kaya pasir pesisir ginowo ing bayu

 

Sawetara suwe katon klawu

Tawang kang biru dadi pepeteng buwono

Tirto kasiramake soko langit

Ambles rinesep ajering bumi

Mabyur kadyo pasir kintir ing beno

 

Banyu lumayu rinesep bumi

Anyigar perengin redi bencah

Angguntur ngrangsek samukawis

Kang tuwuh ing sangisoring gumuk

Ngremuk ati kang nyawijij bumi

 

 

 

 

Bumi sigar bencah, ngguntur ing sangisoring redi. Urip kang ndak bangun nyawiji ing bumi, katherak ambyar…..

(16). Tanah liat merah mentah……

Seperti bebukitan yang tampak merah, diselubungi tanah liat tipis melekat erat, berdasarkan bebatuan membentuk gunung kecil yang miskin dedaunan, sepanjang punggungnya terlihat rumpun bambu kurus menguning…..

 

 

(16). Tanah liat merah mentah……

 

 

Saat kau ceritakan tentang dusun

dan rumah desamu di kerimbunan pokok menghijau

Tak tampak ranting menguning daun mengering

dan tanah kering berhias debu membumbung

air mengalir di kolam teras dalammu

rumput menghijau melukis kesegaran

 

saat kau ceritakan tentang dusun hijaumu

adalah kemewahan yang kudengar

dan harga melambung tak terjangkau

 

mereka adalah tanah liat merah

nan licin menjatuhkan di kubangan air

berdebu dalam terik panas mengusung debu

menggumpal pejal dalam dekapan terik

dan memerah dengan bara amarah

merekalah tanah tak berbuah

 

hanyalah dibakar

dan semoga menjadi gerabah ataulah entah pualam

dan mendapati berguna bagai sederhana

 

 

mereka adalah tanah liat. Yang berkeriutan dan menjatuhkan.  Merah bagai gerabah ataukah licin bagai pualam. Mentah……

(15). Menanti fajar kembali……

Hidup itu adalah arus melingkar yang bergulak gulak, memusing menghanyutkan peristiwa peristiwa. Satu kali kemudian, aku terseret terdampar di pantai peristiwa  peristiwa itu, saat mana matahari tak bercahaya terang dan bulan tak menggantikan…..

 

 

(15). Menanti fajar kembali……

 

 

Matahari tak bercahaya di pantai itu

Tempat peristiwa peristiwa terdampar

Tergolek terbengkelai berserakan di atas pasir

Cahaya kelabu menyorot panas

memanggang pasir yang tak nyaman kuinjak

kakiku melasak mengikatku di peristiwa itu

dan ku hanyut dalam angin dan pasir

tertahan dalam kungkung ingatan

yang kini tinggal puing dikalahkan waktu

 

matahari tak bercahaya di pantai peristiwa

cahaya kelabu menyedotku

melayang dalam dekapan waktu

yang ingin ku koyak dan kutinggal

 

sesaat kubangun lagi

puing puing kulebur membentuk peristiwa

yang kupendam dalam kegelapan cahaya kelabu

saat kunanti kemudian sang fajar

 

 

 

 

 

 

Malam terasa teramat panjang, menyusur sepanjang garis pantai peristiwa, di ufuk satu garis cahaya kelabu, mengahangiku menanti putra sang fajar.